Selasa, 18 Oktober 2016


.
Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorangpun,   dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku itu benar,
(Yohanes 8:15-16a)

Suatu hari terjadi perbantahan antara Yesus dengan orang farisi kerana Yesus menyatakan dirinya sebagi terang dunia, orang farisi tidak menyetujuinya danmenganggap kesaksian Yesus tidak Sah secara hukum Musa karena kesaksian Yesus tidak ada saksi. Tetapi Yesus menegaskan bahwa Dia tidak menghakimi seorangpun selama masa hidupnya sampai pada detik itu. Sekalipun Yesus menghakimi  maka penghakimannya pasti adil karena Dia melakukan penghakiman atas perintah Tuhan.
Kalau di telaah dengan seksama bahwasanya Yesus memang tidak pernah menghakimi bahkan manusia lebih sering menghakimi Tuhan. Bahkan Yesus sampai di kayu salib juga atas dasar penghakiman yang di buat manusia. Ketika Yesus didalam dunia, tugasnya adalah memberitakan Kebenaran yang mengarahkan kepada pertobatan dan Mengampuni dosa manusia, bukan menghakimi, ketika orang kaya yang saleh datang kepadaNya lalu Tuhan menyuruh menjual hartanya, lalu kataNya, lebih mudah onta masuk kedalam lubang jarum dari pada orang kaya masuk dalam kerajaan sorga, tetapi apa yang tidak ungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah(Mat 19:24-26). Inipun bukan menghakimi. Tidak di katakan kepada si orang kaya bahwa kalau kau tidak menjual hartamu maka kau tidak akan masuk sorga. Tuhan masih memberikan kesempatan bagi orang kaya (unta) untuk menjual hartanya dengan kekuatan Allah (bukan dengan kekuatan manusia karena hal itu tidak mungkin)  untuk masuk kedalam kerajaan sorga (melewati lobang jarum).
Yesus tidak menghakimi manusia karena penghakiman Yesus baru terjadi jika akhir jaman tiba. Sebelum itu terjadi maka ini adalah masa anugerah untuk bertobat dan masuk ke sorga. Tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Tetapi manusialah yang sering menghakimi Tuhan Yesus, ketika kehidupan nyaman manusia terganggu dengan datangnya masalah yang tiba-tiba datang dalam hidup terjadi dan pertolongan Tuhan belum datang maka manusia kecewa dan mempersalahkan Yesus.  Padahal masalah itu terjadi belum tentu karena Yesus, seperti Ayub yang diijinkan Tuhan menderita. Siapa tahu saja masalah terjadi dalam kehidupan manusia di karenakan manusia itu sendiri yang melakukannya, baik karena dosa, karena keteledoran, karena ketidak taatan, karena ada media roh-roh dalam rumahnya, karena kemalasannya sendiri dan masih banyak lagi, jangan pernah menyalahkan Tuhan karena Tuhan tidak pernah menghakimi dan belum waktunya Tuhan untuk menjadi hakim atas kita
Jangan pernah menyalahkan (Menghakimi) Tuhan atas apa yang terjadi dalam hidup kita karena itu sama halnya kita berdiri dan memasang dada dihadapan Tuhan, tetapi cobalah mengerti apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan bagi Dia. Saatnya kita menunduk dan Tuhan yang bertindak atas kita.


Di ayat yang sama dalam terjemahan The Massage dikatakan “ You decide according to what you can see and touch.I don’t make judgments like that.  But even if I did, my judgment would be true because I wouldn’t make it out of the narrowness of my experience but in the largeness of the One who sent me, the Father.” Ayat tersebut membedakan pengadilan manusia dengan pengadilan Tuhan karena ayat tersebut menekankan bahwa penghakiman bukanlah menurut akan “experience” kepandaian, pengalaman, keahlian,  tetapi karena sebagai utusan  atau yang dikatakan Tuhan. Disini tidak ada unsur asumsi, prediksi, nalar semata-mata tetapi hanya oleh suara Tuhan saja.

Tagged:

0 komentar:

Posting Komentar