Rabu, 19 Oktober 2016


Ia mempertahankan jiwa kami di dalam hidup dan tidak membiarkan kaki kami goyah.
Mazmur 66 : 9

Kata mempertahankan itu mengandundung istilah  “memperjuangkan”,” Membela sekuat-kuatnya,” “Melindungi sedemikian rupa.” Itulah penyertaan Tuhan. Namun demikian bukan berarti bahwa kehidupan kita tidak ada goncangan dan permasalahan. Sekalipun kita menghadapi masalah namun Penyertaan Tuhan begitu kuat sehingga apapun yang kita hadapi, jangan membuat kita jadi lemah tapi kita justru harus kuat karena ada Tuhan menyertai. Immanuel.
Mazmur 23:4 mengatakan “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku;...” Artinya ketika kita berada dalam masa-masa sulit, disitu juga ada Tuhan. Saat kita berada dalam pergumulan disitu juga ada Tuhan. Saat kita menangis dan mengatakan “Aku sudah tidak sanggup Tuhan”, disitu tetap ada Tuhan. Seolah Tuhan hanya membiarkan semua terjadi namun sebenarnya Tuhan sedang menunggu disaat yang tepat untuk mengangkat kita, sehingga suatu saat kita berkata seperti Daud berkata di Mazmur 23:5a “Engkau menyediakan hidangan bagiku dihadapan lawanku,” Disini Daud hendak menegaskan bahwa musuhnya yang ingin membnasakan akan makan sehidangan dengannya yang berarti musuhnya bukan menjadi lawan yang ditakuti lagi karena penyertaan Tuhan. Dan di ayat 5b dikatakan “Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.” Akhir dari sebuah penderitaan akan ada kemuliaan dimana Tuhan meninggikan kita dengan kelimpahan
Ayub mengatakan di Ayub 3:11, “Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?” dan  Ayub 7:15, “sehingga aku lebih suka dicekik dan mati dari pada menanggung kesusahanku.”. menyataan bahwa penderitaan yang  dihadapi membuat dirinya ingin mati rasanya. Meskipun Ayub didapati tidak melakukan kesalahan dan dosa. Sementara teman-temannya menyangka dia kena kutuk karena dosanya. Sampai akhirnya Ayub mengalami pemulihan dua kali lipat, Ayub 42:10 “Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.”

Apapun kondisi yang kita alami sehingga kita berkata “Tuhan aku tidak kuat.” Sebenarnya ada Tuhan beserta kita dan selalu berkata “bertahanlah anakKu, tinggal sebentar lagi.” TanganNya yang kuat ingin menolong dan hatiNya juga menangis sampai tiba pada waktuNya Tuhan maka sebuah pemulihan terjadi


"Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
Mat 25:14

Didalam kehidupan kita ini, baik sadar atau tidak sadar, baik suka atau tidak suka, ada sebuah panggilan tugas dan beban yang harus kita terima bahkan sudah di berikan kepada kita. Yakni Destiny. Sekalipun kita tidak menyukainya, panggilan itu sudah ada dalam kehidupan kita. Masalahnya kita mau melaksanakannya atau tidak mau.
Tuhan mengatakan bahwa hal kerajaan sorga seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri,kemudian memanggil semua hamba-hambaNya dan mempercayakan hartaNya. Ini berati Tuhan sudah mempercayakan hartaNya kepada semua hamba Tuhan. Sesuatu yang berharga sedang dititipkan kepada kita di dalam dunia ini. Dan selama kita masih hidup titipan itu selalu ada dalam kehidupan kita ini. Apakah yang di titipkan kepada kita?
Iman, Kasih, Karunia, Kesehatan, Akal pikiran, harta kekayaan dan semua yang kita miliki dalam kehidupan ini. Mari kita renungkan apa yang saat ini ada dalam kehidupan kita? Tuhan ingin segala sesuatu yang di berikan kepada kita dapat di pertanggung jawabkan dan suatu saat Tuhan akan memperhitungkan semua itu. Dia ingin apa yang telah di titipkan dalam kehidupan kita tidak akan kembali dengan sia-sia.
“Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.” (Mat. 25:19). Jika Tuhan datang untuk kedua kalinya di dunia ini, maka kita akan mempertanggung jawabkan iman kita, apakah iman itu bertumbuh? Atau mati?
Ketika kita masih bayi dalam rohani memang kita akan menjadi jemaat yang baik, yang selalu menerima siraman Firman Tuhan. Tetapi ketika Iman didalam diri kita sudah bertumbuh maka harus ada tindakan kebenaran hasil dari pertumbuhan iman tersebut. Yakobus 2:26, mengatakan, “Iman tanpa perbuatan mati.”
Yang jadi pertanyaan dalam hidup kita ini; Apakah yang telah kita perbuat untuk kemuliaan Tuhan di muka bumi ini? Apakah kita telah menjadi berkat bagi orang lain? Apakah kita sudah menyenangkan hati Tuhan sehingga Tuhan berkata “sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar”.(Mat 25:21). Atau Tuhan berkata kepada kita “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." (Mat. 25:30)



Ayat kunci : 2Tim1:7 “ Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
Ayat Bacaan : 2 tim 1 : 7 – 12

Kalau kita membaca dari ayat 1 maka ini menjelaskan tentang Nasihat Paulus terhadap Timotius, anak rohaninya.  Meskipun masih sangat muda, Timotius sangatlah di percayakan oleh Paulus dalam melayani jemaat. Oleh sebab itu Paulus menekankan Timotius untuk tidak mudah tertekan oleh intimidasi dunia ini, ataupun dari orang-orang yang membencinya, ataupun dari pihak jemaat dan saudara seiman. Oleh sebab itu Paulus sangat menekankan agar Timotius janganlah TAKUT.
SEbab Allah tidak memberikan roh ketakutan!!
Namun ketakutan dapat dialami oleh semua orang. Karena setiap orang ketakutan akan membuat keputusan yang salah. Misalkan Takut memberitakan Firman (ay8) yang membuat orang duduk tenang tdak berbuat apapun, takut kehormatannya jatuh membuat Hermogenes dan figelus teman sekerja Paulus malu untuk menemui Paulus dipenjara (ay 15,16). Banyak orang untuk membela dirinya maka ia melakukan kebohongan2. Atau karena ekonomi sulit membuat orang melakukan segala cara. Atau karena takut disaingi seseorang dapat menjelek2 saingannya, atau karena ingin di puji  seseorang menghambur2kan kekayaannya. Dan masih banyak contoh yang di karenakan rasa ketakutan.
Dalam bahasa Yunani kata “ketakutan disini” adalah “deilia”, yang artinya adalah ;" stresses timidity or cowardice as opposed to terror” dalam bahasa saya adalah Stress atau tindakan pengecut terhadap tantangan.
Kondisi ketakutan sering dialami oleh semua orang,namun supaya kita jangan salah jalan atau jangan salah membuat keputusan maka Paulus meningatkan bahwa ketakutan itu adalah roh dan itu bukan dari Allah tetapi ada Roh yang dari Allah dapat menjadi jalan keluar bagi ketakutan kita. Yakni Roh membangkitkan kekuatan, Roh Kasih dan Roh Ketertiban (“Sound Mind” dalam KJV). Dan semuanya itu sudah ada dalam diri kita sebagai orang percaya tetapi kita tidak pernah menggunakannya. Ketika kita dalam ketakutan saatnya menggunakan pemberian Allah ini untuk mengalahkan semua hal yang menakutkan
1.       Roh Membangkitkan kekuatan
Ayat 8 “Ikutlah menderita bagi injilnya oleh kekuatan Allah” Didalam diri kita sudah ada roh yang membangkitkan kekuatan jadi gunakanlah itu.
Kapankah kita membutuhkan kekuatan Allah???
 Kekuatan itu akan kita butuhkan justru disaat kita lemah tidak berdaya
“Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,
tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:29-31)
Yang lelah akan diberikan kekuatan dan menambah semangat bagi yang tiada berdaya “putus asa” . orang lemah tiada berdaya ini dianggap sebagai burung rajawali. Ini sangat kontradiksi bertolak belakang. Orang lemah seharusnya di anggap seperti cacing. Tetapi raja wali bisa terbang tinggi bukan dengan kekuatannya, dia hanya mengembangkan sayapnya saja maka angin dan badai akan membuat terbangnya semakin tinggi. Sekali lagi bukan karena kekuatan kepakan sayap. Tetapi hanya mengembangkan sayap saja tanpa harus mengeluarkan keringat atau kelelahan.
Saya ilustrasikan seperti ini. Manakah menurut anda yang lebih berat antara anda bersama Tuhan (anda + Tuhan) mengangkat sebuah mobil Truk dengan anda bersama Tuhan (Anda + Tuhan)  mengangkat pesawat? Benar! Jawabannya sama berat. Jika kemampuan anda hanya bisa mengangkat 50Kg maka sisanya Tuhan yang akan mengangkatnya baik dalam memngangkat mobil ataupun pesawat bahkan mengangkat apollo sekalipun. Artinya kekuatan kita tidak akan dapat mengatasi segala perkara tanpa Tuhan jadi serahkanlah kepada Tuhan. Jika kita sudah tidak sanggup mengatasinya maka lebih baik berdiam diri dan berdoa dari pada harus stress memikirkannya namun tetap saja tidak ada jalan keluar selain menambah penyakit jantung dan stroke. ” Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27)
Lalu bagaimana caranya kita mendapatkan kekuatan Allah itu ?
  Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.
“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;” (Efesus 6:10,11)
Kalau kita baca di Efesus 6:10-18 maka Paulus mengajak kita menggunakan Perlengkapan Senjata Allah seperti
Ø  Berdirilah Tegap è Jangan lemah meskipun keadaan memang wajar utk lemah
Ø  Ikat pinggang kebenaran è jika ikat longgar maka kedodoran maka rasa percaya diri berkurang jadi Lakukanlah dalam jalan hidupmu yang menurut kamu benar dan sesuai dengan Akitab, baik perkataan ataupun perbuatan.
Ø  Baju zirah keadilan è baju zirah letaknya di dada jadi jagalah hati dalam hubungan dengan sesama tetaplah bersikap adil tanpa harus menghakimi ataupun menjelekan orang lain meskipun kenyataan memang benar demikian
Ø  Kasut kerelaan è dimana kaki melangkah sesuai perintah Tuhan ini adalah sikap hati yang memaksakan diri untuk keluar dari kenyamanan dengan memberitakan kebenaran damai sejahtera Alah
Ø  Perisai Iman è sangat pentig dalam menghadapi serangan yakni dengan iman, artinya kita serahkan kepada Tuhan yang berperkara melawan semua mmusuh kita, yang dibutuhkan adalah rasa percaya kepada Tuhan sepenuhnya
Ø  Ketopong Keselamatan è goliat dikalahkan Daud karena tidak menggunakan ketopong  keselamatan yang letaknya di kepala. Jadi lindungilah kepala kita dari cara berpikir kita.
Ø  Pedang Roh è ini adalah senjata untuk melawan musuh yaitu Firman Allah sebagaimana Yesus melawan iblis sewaktu puasa digoda iblis, Dia melawan dengan Firman.
Ø  Strategi Perang è Doa yang tidak putus-putusnya seperti janda meminta keadilan kepada hakim yang lalim

2.       Mengenakan Kasih
Ayat 9, “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”
Kasih disini yang saya tekankan adalah kasih karunia (Favor). Artinya sebuah kasih yang diukur dari nilai pengerbonan. Misalkan (yoh3:16) Kasih Allah yang memiliki nilai sangat besar terhadap umat manusia sehingga memberikan PuteraNya yang tunggal untuk menyelamatkan kita. Nilai Pengorbanan itu sangat menentukan besarnya kasih karunia. Dan Kasihnya ini juga telah di wariskan (impartasikan) agar memiliki kasih seperti Tuhan.
Ilustrasinya begini, Jika kau memiliki 1 juta maka untuk memberikan bantuan kepada orang sebesar 50rb adalah mudah, tetapi jika 100rb itupun masih biasa, jika memberi yang membutuhkan 500rb maka ini akan terasa berat (Kasihnya mulai berat), jika harus memberikan 100% yakni 1jt maka ini terlalu sangat berat. Tetapi jika kita bisa memberikan seperti kehendak Tuhan begitu maka tingkat kasihmu (Favor) bernilai tinggi. Dan orang yang menerima pemberianmu akan mengatakan menerima Kasih Karunia dari Tuhan (bukan dari dirimu).
Sebuah kesaksian tentang 2 orang yang bersahabat meskipun berlainan agama. Mereka sama-sama bekerja di perusahaan yang sama dengan kedudukan yang tinggi. Ekonomi keduanya sangat mapan dan sangat di berkati. Suatu ketika seorang yang berbeda kepercayaan mengalami kerusakan ginjal dan berlarut-larut dalam penderitaan cuci darah. Keputusan dokter haruslah transplatasi ginjal. Sahabatnya orang percaya setelah bergumul dan berkomunikasi bersama keluarga akhirnya menawarkan ginjalnya secara Cuma-Cuma kepada sahabatnya. Pria yang memiliki ginjal rusak ini akhrnya hanya dapat menangis tersedu-sedu walaupun akhirnya dia tidak mau menerima ginjal orang percaya ini dan tidak jadi transplatasi ginjal. Namun bentuk kasih yang besar tanpa pamrih ini membuat orang yang punya penyakit ginjal ini mengerti arti sebuah kasih (Favor)

3.       Ketertiban (Sound Mind)
Mengapa dalam KJV dikatakan Sound Mind? Menurut hikmat yang yang saya terima adalah demikian. Sebuah alunan musik akan terdengan menyenangkan dan mengalunkan jiwa ketika memiliki kumpulan nada-nada yang harmonis teratur. Demikian juga dengan nada-nada kehidupan ataupun nada-nada dalam pikiran kita. Jika di pikiran kita saja ada yang tidak berjalan sesuai pikiran Kristus, mudah stress, kuatir atau emosi maka nada dalam pikiran akan kacau sehingga dapat menimbulkan bencana dan sakit penyakit.
Tuhan juga suda menyelaraskan nada-nada kehidupan dengan harmonis semenjak jaman adam dan hawa, namun iblis membuat yang harmony menjadi rusak karena masuknya dosa2. Itulah Tuhan ingin memperbaiki semuanya agar kembali harmony melalui Yesus Kristus.
Jadi Soundmind dalam bahasa Ibrani adalah Sophronismos yang artinya dalam bahasa Inggris seperti “To Save” dan “To Control” yakni, bagaimana kita sebagai umat Tuhan untuk dapat menyelamatkan (to save) keadaan yang bagaimanapun ataupun untuk dapat mengontrol keadaan (to Control). Jika didalam rumah tangga maka di perlukan seorang “soundmind” yang dapat menetralisir keadaan menjadi damai dan seirama. Kalau digabungkan menjadi “Save control” yang artinya penguasaan diri.

Paulu dalam ayatnya ke 12 mengatakan “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” Maksudnya adalah penderitaan yang di alami Paulus bagi Kristus adalah bentuk penguasaan dirinya demi umat Tuhan agar sesuai dan seirama dengan kehendak Tuhan sekalipun harga yang harus dibayar adalah berada dalam penjara.   

Selasa, 18 Oktober 2016


.
Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorangpun,   dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku itu benar,
(Yohanes 8:15-16a)

Suatu hari terjadi perbantahan antara Yesus dengan orang farisi kerana Yesus menyatakan dirinya sebagi terang dunia, orang farisi tidak menyetujuinya danmenganggap kesaksian Yesus tidak Sah secara hukum Musa karena kesaksian Yesus tidak ada saksi. Tetapi Yesus menegaskan bahwa Dia tidak menghakimi seorangpun selama masa hidupnya sampai pada detik itu. Sekalipun Yesus menghakimi  maka penghakimannya pasti adil karena Dia melakukan penghakiman atas perintah Tuhan.
Kalau di telaah dengan seksama bahwasanya Yesus memang tidak pernah menghakimi bahkan manusia lebih sering menghakimi Tuhan. Bahkan Yesus sampai di kayu salib juga atas dasar penghakiman yang di buat manusia. Ketika Yesus didalam dunia, tugasnya adalah memberitakan Kebenaran yang mengarahkan kepada pertobatan dan Mengampuni dosa manusia, bukan menghakimi, ketika orang kaya yang saleh datang kepadaNya lalu Tuhan menyuruh menjual hartanya, lalu kataNya, lebih mudah onta masuk kedalam lubang jarum dari pada orang kaya masuk dalam kerajaan sorga, tetapi apa yang tidak ungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah(Mat 19:24-26). Inipun bukan menghakimi. Tidak di katakan kepada si orang kaya bahwa kalau kau tidak menjual hartamu maka kau tidak akan masuk sorga. Tuhan masih memberikan kesempatan bagi orang kaya (unta) untuk menjual hartanya dengan kekuatan Allah (bukan dengan kekuatan manusia karena hal itu tidak mungkin)  untuk masuk kedalam kerajaan sorga (melewati lobang jarum).
Yesus tidak menghakimi manusia karena penghakiman Yesus baru terjadi jika akhir jaman tiba. Sebelum itu terjadi maka ini adalah masa anugerah untuk bertobat dan masuk ke sorga. Tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Tetapi manusialah yang sering menghakimi Tuhan Yesus, ketika kehidupan nyaman manusia terganggu dengan datangnya masalah yang tiba-tiba datang dalam hidup terjadi dan pertolongan Tuhan belum datang maka manusia kecewa dan mempersalahkan Yesus.  Padahal masalah itu terjadi belum tentu karena Yesus, seperti Ayub yang diijinkan Tuhan menderita. Siapa tahu saja masalah terjadi dalam kehidupan manusia di karenakan manusia itu sendiri yang melakukannya, baik karena dosa, karena keteledoran, karena ketidak taatan, karena ada media roh-roh dalam rumahnya, karena kemalasannya sendiri dan masih banyak lagi, jangan pernah menyalahkan Tuhan karena Tuhan tidak pernah menghakimi dan belum waktunya Tuhan untuk menjadi hakim atas kita
Jangan pernah menyalahkan (Menghakimi) Tuhan atas apa yang terjadi dalam hidup kita karena itu sama halnya kita berdiri dan memasang dada dihadapan Tuhan, tetapi cobalah mengerti apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan bagi Dia. Saatnya kita menunduk dan Tuhan yang bertindak atas kita.


Di ayat yang sama dalam terjemahan The Massage dikatakan “ You decide according to what you can see and touch.I don’t make judgments like that.  But even if I did, my judgment would be true because I wouldn’t make it out of the narrowness of my experience but in the largeness of the One who sent me, the Father.” Ayat tersebut membedakan pengadilan manusia dengan pengadilan Tuhan karena ayat tersebut menekankan bahwa penghakiman bukanlah menurut akan “experience” kepandaian, pengalaman, keahlian,  tetapi karena sebagai utusan  atau yang dikatakan Tuhan. Disini tidak ada unsur asumsi, prediksi, nalar semata-mata tetapi hanya oleh suara Tuhan saja.
Hasil gambar untuk daud dan yonatan
Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.
I samuel 18:1

Yonatan anak Raja dan akan menjadi ahli Waris kerajaan dari Ayahnya, Saul. Sementara Daud dari rakyat biasa yang memiliki jiwa kepahlawanan. Bahkan ketika Saul, Ayahnya hendak membunuh Daud, Yonatan tetap melindungi Daud meskipun dia tahu bahwa kelak yang menjadi raja bukanlah dirinya melainkan Daud. Yonatan berkata kepada Daud "Janganlah takut, sebab tangan ayahku Saul tidak akan menangkap engkau; engkau akan menjadi raja atas Israel, dan aku akan menjadi orang kedua di bawahmu. Juga ayahku Saul telah mengetahui yang demikian itu."(1Sam 23:17). Yonatan rela menyerahkan tahta yang kelak menjadi miliknya untuk di berikan kepada Daud. Persahabatan Yonatan Daud sungguuh mulia dan rela berkorban. Disini Yonatan dapat melihat bahwa Tuhan punya rencana untuk menjadikan Daud sebagai Raja dan Yonatan tidak keberatan. Dan Saul juga tahu bahwa Daud akan menjadi Raja namun Saul sangat keberatan. Saul pernah berkata kepada Yonatan, anaknya, “Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh. Dan sekarang suruhlah orang memanggil dan membawa dia kepadaku, sebab ia harus mati."( Isam 20:31). Saul sangat sadar bahwa Tuhan telah menjauh darinya, tapi tidak inging melepaskan kerajaannya begitu saja. Dia berusaha mempertahankan. Samuel yang mentahbiskan Saul jadi raja pernah berkata “... Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."(Isam 15:23) Saul menyadari kalau kerajaannya tidak akan bertahan lama.

Yang menyedihkan adalah sikap Yonatan yang mendua hati, antara mengikut Daud yang telah di urapi Tuhan atau mengikuti orang tuanya. Dalam rancangan masa depan Yonatan jika Daud menjadi raja bahwa dia hendak menjadi orang ke dua dari Daud. Namun cita2 dan harapannya tidak tercapai hanya karena salah mengambil keputusan. Padahal Yonatan demikian yakin bahwa Daud adaah orang yang di urapi Tuhan dan pasti akan menjadi Raja, sementara ayahnya, Saul telah menjadi jahat dan menauh dari Tuhan. Secara sederhana dapat di lihat bahwa seharusnya pilihan Yonatan seharusnya mengikut Daud.

Yang menjadi pertanyaan, apakah yang menyebabkan Yonatan salah mengambil keputusan :

1.       Patuh kepada orang tua
Yonatan masih terikat kepada ayahnya. Dia tidak dapat melepaskan itu. Apa lagi sang masih memiliki kekuasaan. Banyak orang seperti Yonatan yang tidak berani mengambil keputusan yang benar mengikut Tuhan karena masih bergantung kepada orang tua, masih memiliki ikatan yang sangat kuat terhadap orang tua. Sedangkan Yesus dengan tegas mengatakan Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,  dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.(Mat 10:34-35). Apa lagi jika ayah kaya dan memiliki warisan, apa lagi ayah masih menanggung biaya kehidupan kita sementara kita sendiri belum mendapatkan penghasilan. Maka itu akan menjadi keputusan yang sangat sulit.

2.       Status Sosial

Tradisi Israel adalah sangat keras dimana seorang anak harus patuh kepada orang tua. Bahkan jika ayahnya mati maka namanya tetap menyandang nama ayahnya sebagai penghormatan. Misal : Yonatan bin Saul. Jika Yonatan mengikuti Daud (musuh Saul) maka Yonatan dianggap anak murtad dan di musuhi seluruh bangsa Israel. Bahkan dia akan di benci. Apa lagi jika mengikuti Daud maka dia akan menjadi buronan yang di kejar2 seperti Daud. Lebih baik cari jalan aman. Banyak anak Tuhan pun juga seperti itu. Takut kehilangan jati dirinya. Takut kehilangan status sosialnya. Takut di rendahkan. Lebih baik cari jalan aman. Karena pikirnya, toh sy tidak berbuat dosa. Dan sy masih mengikut Tuhan. Saya tida berkhianat kepada Tuhan. Saya kan cuman cari jalan aman. Ketahuilah Yakobus 4:17 berkata “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”  Dan Yesus juga berkata “Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.” Karena memang mengikut Tuhan ada resiko namun Tuhan pasti membela kita. 

Minggu, 16 Oktober 2016

Hasil gambar untuk tulang tulang dihidupkan yehezkiel

Lalu Ia berfirman kepadaku: "Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?" Aku menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!"

Yehezkiel 37:3



Sebuah pertanyaan sering di tanyakan di dalam hati nurani : Dapatkah Ekonomiku di pulihkan? Dapatkah Anak-anakku mendapat sekolah yang layak? Dapatkah orang tuaku diselamatkan? Dapatkah GCC memiliki Gereja permanen dan menampung 500 jemaat? Dapatkah ini...? Dapatkah itu...? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang menuntut sebuah keyakinan didalam menjawabnya.

Yehezkiel berarti “Allah menguatkan.” Dalam pelayanannya sebagai Nabi di Babel dalam pembuangan, sering mendapat tekanan dari bangsanya sendiri. Oleh RohNya, Tuhan membawa Yehezkiel ke suatu lembah yang penuh tulang-tulang kering dan menanyakan satu pertanyaan yang sangat sulit di jawab. Dapatkah tulang-tulang ini di hidupkan kembali? Secara logika yah tidak mungkin tulang dapat dihidupkan kembali, apa lagi sudah kering alias mayat yang sudah sangat lama. Seandainya mayat yang masih baru maka tulangnya masih basah dan ini tergeletak diatas tanah terkena hujan dan panas sehingga cepat mengering.

Yehezkiel tidak menjawab; “tidak mungkin Tuhan.” Atau “sekiranya Engkau berkenan.” Atau “Aku tidak tahu Tuhan”. Tetapi dia menjawab “Engkaulah yang mengeahuiNya.” Yang artinya tidak ada yang Mustahil bagi Tuhan. Segala sesuatu di atas bumi dan di atas langit tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Tuhan juga mengatakan di ayat ke 7, “Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN." Kata “Kamu akan mengetahui.” Sama seperti kamu akan menyaksikannya/kamu akan melihatnya/Kamu akan Percaya dan diakhiri dengan Sebuah Statemen untuk meyakinkan Yehezkiel bahwa pernyataan “AKULAH TUHAN.” Adalah sebuah rahasia besar yang tidak banyak orang dapat melihatNya.



Pengertian AKULAH TUHAN menunjuk kepada 3 Pengertian.



1. Kuasa Mutlak Tuhan.

Kuasa Tuhan tidak dapat di batasi oleh apapun dan tidak dapat terbendung oleh apapun sekalipun hal yang sangat mustahil. Tuhan bukan hanya dapat menghidupkan yang mati tetapi juga dapat membangkitkan yang sudah menjadi tulang yang kering sekalipun. Uhan dapat mengangkat setinggi-tingginya seseorang yang jatuh paling dalam sekalipun. Tuhan dapat membalikan keadaan yang sangat terpuruk menjadi mulia. Tuhan dapat membuat keadaan ekonomi yang sangat sulit menjadi berkelimpahan.

Ada Sebuah peristiwa kelaparan yang sangat dahsyat di Samaria sampai seorang ibu terpaksa membunuh anaknya untuk di jadikan makanan (2raj 6:28-29). Namun Tuhan menaruh belas kasihan dan melakukan Mujizat yang mustahil sekalipun dengan membalikan keadaan yang melarat menjadi kelimpahan. 2Raj 17:1-2,

Lalu berkatalah Elisa: "Dengarlah firman TUHAN. Beginilah firman TUHAN: Besok kira-kira waktu ini sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria." Tetapi perwira, yang menjadi ajudan raja, menjawab abdi Allah, katanya: "Sekalipun TUHAN membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin terjadi?" Jawab abdi Allah: "Sesungguhnya, engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan apa-apa dari padanya."

Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.



2. Tuhan yang menepati janjiNya

Bangsa Israel pada waktu jaman Yehezkiel berada dalam pembuangan. Hal ini disebabkan karena dosa bangsa Israel sendiri. Walaupun kondisi mereka jauh dari apa yang telah di janjikan Tuhan bahwa Tuhan akan meneguhkan kerajaannya di atas tanah Kanaan namun kenyataannya mereka hanya menjadi budak jauh dari Kanaan. Tetapi janji Tuhan tetap Ya dan Amin sekalipun kondisinya begitu banyak orang israel telah mati maka oleh Kuasa Tuhan maka dibangkitkannyalah bangsa Isreal dari tulang-tulang kering (ayat 11-14).

Dosa membuat kita menjauh dari Tuhan tetapi karena kasihNya yang begitu besar terus berusaha menunjukan kepada umatNya bahwa Tuhan selalu membuat mujizat untuk kita dan membuka tangannya menerima kita untuk kembali.

Satu kali Daud membuat kesalahan bergabung dengan bangsa Filistin tanpa perintah Tuhan. Dia lakukan karena Saul terus mengejar sehingga Daud menggunakan pikirannya sendiri untuk lolos dari Saul (1Sam 27:1). Raja Gat memberikan tanah Zikag kepada Daud dan pasukannya serta keluarga mereka masing-masing. Keputusan yang salah itu berakibat fatal. Suatu kali Daud dan pasukannya hendak menolong orang Filistin namun Ziglag di biarkan kosong, hanya tinggal ternak dan isteri-isteri mereka. Ketika orang Amaleg menyerbu membawa semua ternak dan isteri pasukan Daud. Hal itu membuat Daud putus asa, apa lagi pasukannya mulai membenci Daud dan hendak melemparinya dengan batu. Tetapi di ayat 1Sam 30, Daud berdoa kepada Tuhan,

Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: "Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?" Dan Ia berfirman kepadanya: "Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan."

Sekalipun Daud melakukan kecerobohan tanpa petunjuk Tuhan namun Tuhan tetap memberikan janji pertolongan kepada Daud. Akhirnya dengan anggota yang terbatas, Daud dapat mengalahkan bangsa Amalek atas dasar janji Tuhan.



3. Hanya satu-satuNya yang dapat di percaya

Tidak ada Allah lain yang dapat kita pertaruhkan segala hidup ini selain Yahweh yang hidup. Tuhan menunjukan kuasaNya kepada Yehezkiel supaya dia yakin akan tugasnya dalam melayani Tuhan tanpa rasa gentar sedikitpun. Karena AKULAH TUHAN. Keyakinan atau rasa percaya dalam sebuah pelayanan itu sangat penting. Supaya jangan sampai kita melayani dengan keraguan. Itulah sebabnya Tuhan menunjukkan kedahsyatannya. Yehezkiel hanyalah sebagai warga biasa yang tinggal di tepi sugai Kebar. Arti dari namanya adalah “Allah menguatkan.” Menandakan karakter nya mungkin sering diliputi keraguan jadi membutuhkan kekuatan dari Allah.

Seperti halnya Yesus memberi kuasa kepada murd-muridNya dan menyuruh melayani dua-dua berkunjung rumah-rumah serta mengusir setan. Dibutuhkan rasa percaya yang tinggi untuk terjun dalam pelayanan. Meskipun ada resiko ditolak. Para Murid sudah melihat kuasa Tuhan melalui Yesus maka merekapun berani melakukan

Rasa percaya kita terkadang sering di dasari oleh rasa takut dan gentar namun tidak ada keinginan untuk berkorban. Ambil contoh Musa.dalam Kel 3:13-14 dan Kel 4:13-14

Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? — apakah yang harus kujawab kepada mereka?" Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."

Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus." Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: "Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya.

Tuhan sudah menunjukan kuasaNya kepada Musa tetapi dia tetap taku dan ragu membuat Tuhan Murka. Manusia terkadang mau melayani dengan caranya sendiri bukan dengan cara Tuhan. Tidak berani ambil resiko, takut terhadap tantangan, dan lebih suka mencari aman. Kita percaya kepada Tuhan bukan hanya sekedar percaya saja tetapi harus berkorban dalam melayani Tuhan. Jika tidak demikian berarti kita hanya menuntut Tuhan untuk melayani kehendak kita, mendapatkan damai sejahtera, mendapatkan kelimpahan, mendapatkan suka cita tetapi tidak mau berkorban maka sama saja Tuhan yang jadi budak dan kita yang menjadi Boss yang mengatur Tuhan.



Ada kuasa didalam diri kita, tugas kita hanya melakukan perintahNya dengan keyakinan pernyataan Tuhan bahwa “AKULAH TUHAN.”

Jumat, 14 Oktober 2016




Mau coba membuat blog di blogger yang garatisan nih....

kira-kira mau di isi apa yah